JEAN MABILLON

( 1623 – 1707 )

  1. Latar Belakang Tokoh.

Jean Mabillon lahir pada tanggal 23 November 1923 di kota Rheims, salah satu kota dekat Paris. Mabillon dilahirkan dikalangan keluarga petani yang sederhana, namun sangat dekat dengan nuansa religi. Sejak awal kehidupannya telah bersentuhan dengan biara/gereja, karena memang ia sangat menginginkan hal tersebut. Ketika Mabillon menginjak usia 21 tahun, ia menjadi biarawan dan masuk di biara St. Remy ( suatu biara yang dekat dengan kota kelahirannya ). Setelah menjadi biarawan, ia mengalami beberapa perpindahan dari biara yang satu ke biara yang lainnya termasuk biara St. Denis, yaitu biara yang berada di luar kota Paris. Tetapi yang paling menguntungkan bagi Mabillon ialah ketika ia masuk ke biara St. Germaindes-pres pada tahun 1664di Paris. Daerah tersebut merupakan pusat dari kongregasi Maurist dari biarawan-biarawan Benekditus, maurist adalah suatu kelompok yang terkenal yang sering mengadakan suatu ekspedisi-ekspedisi ke Eropa. Dari sinilah ia dapat memberikan seluruh perhatiannya untuk sejarah gereja sekaligus memulai karirnya sebagai seorang sejarawan. Biara St. Germain-des-pres adalah suatu biara yang mempunyai suatu perpustakaan yang lengkap dan terbaik di Perancis pada saat itu. Mabillon berada dalam suatu lingkungan intelektual biarawan-biarawan yang dituntut untuk melaksanakan latihan intelektual dan setiap minggunya diadakan suatu diskusi penelitian dari para biarawan serta korespondensi mereka dengan sejarawan-sejarawan Perancis, Italia dan Jerman Selatan.

  1. Karya – Karya Mabillon

Mabillon memulai pekerjaannya dengan suatu penerbitan karya-karya St. Bernard yang berupa cacatan dan pengantar yang memberikan suatu sumbangan yang sangat bernilai bagi kebiaraan. Ia membuat seri enam jilid buku tentang kehidupan orang-orang suci di kalangan biarawan, yang ia terbitkan pada tahun 1668 dan 1680. dalam beberapa karya dari Mabillon ada satu karya yang merupakan karya terhebat darinya yang ia beri judul On Diplomatics , yang menjelaskan tentang manuscript ( dokumen ) dan juga kegunaannya, selain itu On Diplomatics juga menerangkan kegunaan ilmu pengetahuan diplomatic untuk menentukan keotentitasan ( keaslian ) sebuah dokumen. Karya Mabillon ini berusaha untuk menentukan keaslian dokumen melalui sebuah perbandinganyang meliputi gaya tulisan, bentuk tulisan, segel serta tandatangan dari suatu document dari periode yang sama pula. Sebenarnya karya Mabillon ini merupakan suatu tanggapan dan jawaban dari suatu sikap skeptis yang berlebihan yang dilancarkan oleh Daniel Papebroch, seorang sarjana Bollandist, yang melalui karyanya “ Propylaeum “ pada tahun 1675. Dalam karyanya tersebut Papebroch menyimpulkan bahwa piagam-piagam dari zaman Merovingia yang tersimpan di biara-biara Perancis adalah palsu. Sebenarnya jika kita teliti lagi On Diplomatik adalah suatu karya yang Mabillon ciptakan untuk membela bekas biaranya, dan sekaligus memaksa Papebroch menarik kritiknya.

Sebagai seorang ilmuwan Mabillon memerlukan suatu kesepakatan dari pendapat-pendapat para ahli yang berdasarkan penelitian yang empirisme, dan tidak menuntut suatu kepastian yang mutlak dan kesimpulan-kesimpulan yang tak dapat ditarik kembali. Tentunya pernyataan ini ditujukan pada ilmu pengetahuan eksperimental yang tidak memungkinkan untuk melakukan hal-hal tersebut. Untuk itulah ia suka mengundang sarjana-sarjana yang tak terlalu berprasangka ( tidak terlalu skeptis ). Mabillon menolak “ Phyrronisme sejarah “ yaitu suatu skeptisme yang timpang. Mabillon juga menyikapi skeptisme konstruktif dari David Hume dan yang lainnya, yang tidak pernah menjustifikasi penerimaan yang dapat dipercaya dari suatu bukti-bukti yang tak teruji, tetapi juga menganggap penolakan kesimpulan akhir yang tentatif sebagai suatu abjurasi tugas penelitian pikiran. Karena karya-karyanya yang hebat Mabillon diberi hadiah oleh Raja Matahari, Louis XIV, sebagai seorang yang paling terpelajar di kerajaannya. Beserta itu juga Mabillon memiliki kesempatan untuk dapat masuk ke dalam perpustakaan raja dan perpustakaan menteri-menteri agung. Ia pun dikirim ke Italia untuk mendapatkan buku-buku dan dokumen-dokumen yang ia perlukan dalam mengisi karirnya. Semasa hidupnya Mabillon banyak menciptakan karya-karya yang telah banyak memberi sumbangan pada bidang sejarah khususnya bagi para sejarawan dalam bidangnya. Selain On Diplomaic masih banyak karyanya, berikut ini adalah karya-karya dari Jean Mabillon yang terkenal :

  1. On The Gallican Liturgy ( 1608 )
  2. Treative On Monastic Studies ( 1691 )
  3. Reflections On The Reply Of The Abbot Of Is Trappe
  4. Annals Of The Benedictine Order ( 1703 )

Mabillon berada dalam suatu lingkungan yang sangat mendukung dalam menulis semua karya-karyanya, kekreatifannya dilatarbelakangi oleh suburnya rasionalisme yang berkembang di Perancis yaitu pada saat Aufklarung ( abad 18 )

Dalam menekuni bidangnya Mabillon tidak memiliki pendahulu secara nyata, kalaupun ada ialah Lorenzo Valla, yang memiliki pandangan yang sama dengan Mabillon, tetapi kritik teks nya berbeda. Mabillon lebih suka mengundang sarjana yang tak berfaham skeptis, sedangkan Valla sendiri sebaliknya, ia lebih senang mengundang sarjana-sarjana yang mempunyai skeptisme yang bisa menimbulkan suatu polemik, karena Valla sendiri sangat suka dengan suatu polemik.

  1. Kesimpulan

Diakui atau tidak Mabillon adalah seorang sejarawan yang berjasa besar sebagai penemu ilmu pengetahuan baru yang telah banyak memberikan sumbangan bagi bidang sejarah. Ia telah memberikan suatu bentuk baru dalam menentukan suatu keotentitasan sebuah dokumen, lebih jauh lagi hal ini telah menjadi kriteria bagi para sejarawan dalam menentukan keaslian sebuah dokumen. On Diplomatic, sebuah karya besar Mabillon yang membahas tentang dokumen dan berisi ilmu pengetahuan diplomatic yang berfungsi untuk menetukan keaslian suatu dokumen. Dari karya tersebut kita bisa mendapat beberapa kriteria dalam menentukan keaslian dokumen, beberapa kriteria tersebut meliputi :

  1. Dalam menentukan bukti-bukti terpecaya dari sebuah dokumen tidak dilihat dari sikap individu, melainkan melihat dari hubungan dokumen satu dengan dokumen yang lain.
  2. Keputusan yang terburu-buru hendaknya dihindari, khususnya bagi sejarawan-sejarawan baru
  3. menerima satu atau dua dokumen sebagai bukti adalah suatu tindakan yang tidak dapat dibenarkan. Jadi kita harus menerima lebih dari satu dokumen sebagai bukti.
  4. sejarawan harus lebih banyak membaca dokumen dari periode yang sama, ini untuk mengetahui gaya tulis pada periode tersebut sehingga kita bisa membandingkan satu dokumen dengan dokumen yang lain, yang bisa dijadikan kriteria dalam membandingkan suatu dokumen meliputi gaya tulis ( style ), bentuk tulisan ( form ), tandatangan  ( signature ) dan segel ( seal ).
  5. Sejarawan hanya menerima bukti yang diulang dalam suatu dokumen, jadi suatu pernyataan dalam dokumen yang mengalami pengulangan memiliki suatu bukti kebenaran yang besar.

Kelima kriteria diatas hendaknya menjadi suatu acuan bagi sejarawan jika mereka ingin mencari bukti-buktidari suatu dokumen, atau bisa juga dalam menentukan keaslian dari dokumen itu sendiri.

Mabillon sendiri meninggal pada tahun 1707, enam bulan setelah ia menyelesaikan karyanya yang berjudul Annals of The Benedictine Order, rekaman yang paling lengkap tentang ordo Benedictus. Sedangkan karyanya yang berjudul Treatise On Monastic, membicarakan tentang usahanya mempertahankan ajaran Maurist yang melawan serangan anti intelektual dari biarawan-biarawan Trappist. Sumbangan lain dari Mabillon adalah informasi yang berupa Appendix dan catatan tentang liturgy dan kebiasaan-kebiasaan kebiaraan serta observasi umum tentang sejarah gereja.