Kaum Samin
Sejarah dan Budaya Masyarakatnya

1. Pendahuluan
Samin, kata ini mungkin terdengar asing di masyarakat bahkan di kalangan mahasiswa pun. Kalaupun terdengar pun, mungkin yang dipahami hanya stereotip buruk mengenai masyarakat ini, entah dikatakan masih primitif ataupun ketinggalan jaman.
Kondisi boleh dikatakan Ahistoris kalau tahu sejarah kaum ini. Pada awal abad 20 kaum ini dengan berani mengguncang Hindia Belanda dengan aksi perlawannanya terhadap kekuasaan kolonial. Gerakan samin dapat dianggap sebagai salah satu gerakan sosial tradisional pasif.
Namun ada satu hal yang membedakannya dengan gerakan-gerakan petani lainya, yaitu bila biasnya gerakan-gerakan sosial sejenis ini hanya berumur singkat, tidaklah demikian dengan gerakan samin. Gerakan ini dimulai pada kira-kira akhir abad 19 dan hingga kini masih hidup.
Samin sebenarnya merupakan nama seorang tokoh Blora pada zaman colonial. Dia adalah tokoh penganjur keadilan dan gerakan tanpa kekerasan, bahkan jauh-jauh sebelum mahatma Gandhi menemukan metode Satyagraha yang terkenal tersebut.
Nama Samin ini akhirnya yang kemudian membekas menjadi gerakan anti colonial untuk menjadi saminisme. Kalaupun gerakan itu tercermin dalam politik atau tercermin dalam ekonomi sebenarnuya bukan politik dan bukan ekonomi semata-mata, tatai juga gerakan kebudayaan secara total atau Contra kultura.
Sungguh menggelikan, bahwa kaum yang dengan berani melawan kekuasaan belanda tersetereotip saangat buruk. Sebuah kewajaran memang dalam perkembanganya sebuah tokoh symbol perlawanan menjadi buruk. Dan bukan yang baru juga, kalau kelompok yang kalah dalam pertarungan tertentu (yang bersifat politik ataupun bukan) bakal mendapat diskriminasi perlakuan, sekalipun masyarakat itu sebenarnya mempunyai nilai kebudayan yang sangat humanis.
Stereotip buruk mengenai masyarakat samin ini memang sebuah fakta sosial yang seyogyanya kembali diperdebatkan dan di koreksi. Perendahan kultural yang dialami masyarakt Samin ini merupakan buah diskrimnisai yang dilakukan oleh kaum priyayi,santri dan abangan yamng merupakan lapisan sosio cultural masa itu yang berpihak pada Belanda dalam persolan pemberontakan atau paling tidak tidak berpihak kepada masyarakat Samin. Kemudian ini meluas, dan menghegemoni masyarakat Jawa pada umumnya yang sebenarnya tidak mengetai seluk beluk perjuangan masyarakat Samin.
Padahal kekuasaan colonial menindak pemberontakan itu secara fisik, dan beruasaha pula menciptakan citra negative mengenai Samin, bahwa pemberontakan itu dilakuakn oleh orang-orang bodoh yang keterlaluan hingga walaupun di buang atau dipenjara ke tanah seberang, mereka tenang-tenang saja.

2. Isi
2.1. Samin Surontiko
Keberadaan kaum Samin tidak bisa dilepaskan dari sosok Samin Surontiko. Cerita ini bermua dari sebuah desa di kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora sekitar tahun 1859, lahirnya seorang laki-laki yang bernama Samin Surontiko. Kemudian setelah dewasa Ia menjadi seorang Petani, seperti halnya umumnya masyarakat sekitar situ yang rata-rata bermata pencaharian sebagai petani. Kehidupan sebagai petani serta lingkungan alam yang berada di sekitar hutan dan banyak areal pertania itu berperan besar dalam pembentukan wataknya yang ulet dan pekerja keras.
Sekitar tahun 1890, ia mulai menyebarkan ajaranya kepada orang-orang sedesanya. Ia banyak melakukan tapa (perenungan) dan menghasilkan sebuah pemikiran yang progresif pada masa itu. Ajaranya mendapat sambutan baik dan segera memikat orang banyak dari desa-desa sekitarnya bahkan hingga meluas di blora dan sekitarnya.
Semula ajaran ini tidak segera menarik minat dan menimbulkan persolan bagi pemerintah kolonial. Tetapi kemudian sekitar tahun 1905 terjadi perubahan, karena pengikut Samin mulai menarik diri dari kehidupan umum desanya, menolak memberikan sumbangan kepada lumbung dan menggembalakan ternaknya dengan tenak yang lain.
Memang mereka masih mau membayar pajak, tapi menurut anggapan mereka itu bukan kewajiban melainkan sukarela. Namun Samin Surontiko sendiri menghentikan pembayaran pajak pajak, walaupun tidak menganjurkan kepada pengikutnya untuk berbuat demikian, karena menurutnya mereka belum bersih untuk dapat berbuat demikian.
Tahun 1907 kontolir Belanda mendengar bahwa tanggal 1 maret orang Samin akan mengadakan pemberontakan. Ia pun mohon kepada atasanya untuk mengirimkan pasukan. Namun permintaan ini di tolak, akhirnya ia sendiri melakuakn penangkapan atas sejumlah orang samin dalam sebuah hajatan. Samin Surontiko sendiri tidak di tangkap waktu itu.
Baru beberapa hari kemudian aia menerima panggilan dari Bupati utnuk dating ke Rembang dan di sana ia di tangkap. Sesudah di periksa, samin dan delapan orang pengikutnya di buang ke Sumatera (walaupun tidak cukup bukti kalau dia akan melakukan pemberontakan.) dan meninggal diPadang pada tahun 1914.
Dengan Kepergian Surontiko, gerakan samin mengalami pukulan agak terhambat perkembanganya. Akan tetapi terus hidup walaupun berkembang dengan lambat. Di madiun seorang Wongsorejo mulai menyebarkan ajaran ini disana. Di Grobogan ajaran ini disebaarkan leh surohidin dan pak engkrak.

2.2..Ajaran Saminisme
Sampai sekarang masih terdapat dua pendapat, para ahli berpendapat Samin tidak meninggalkan ajaran tertulis, sedangkan orang Blora sendiri menyebutkan ada kitab suci. Anggapan orang Blora itu tidak mengherankan, karena masuk akllah apabila sebuah ajaran dijelaskan dalam sebuah pegangan yang pasti, seperti halnya ajaran-ajaran lain.
Melihat kayanya Samin Surontiko, ada kemungkinan pula bahwa ia menguasai ilmu baca tulis. Apalagi Saminisme ( ajaran yang disebarkan Samin Surontiko dan kemudian dikembangkan pengikutnya) adalah suatu ajaran yang tidak semata-mata bersifat ekonomis saja seperti yang digambarkan dalam uraian sin gkat di atas. Pemerintah Hindia belanda dalam menggulangi memang digerakkan oleh alasan ekonomi saja.
Memang, seperti halnya gerakan-gerakan lain dijaman itu dan sebelumnya ia kaitkan dengan harapan akan datanya zaman gemilang,zaman emas, zaman sama rasa sama rata, zaman ratu adil atau apapun yang senada dengan itu. Harapan atau cita-cita itulah yang meneguhkan semangat perjuangan cultural masyarakat Samin.
Kalaupun pemberontakan ini semata-mata pemberontakan ekonomi (dengan embel-embel mesianisme atau milliniarisme), mustahil ia dapat bertahan demikian lama bahkan higga sekarang kalau gerakan ini tidak bersandarkan pada sebuah kultur yang kuat dan mengakar.
Untuk mengetahui kultur yang dimiliki kaum Samin, mau tidak mau kita harus hubungkan denga kondisi gerografis dimana kaum kebanyakan tinggal. Kaum ini kebanyakan berada di daerah Blora dan di daerah lainya seperti Bojoegoro, Pati, rembang dan sekitarnya. Banyaknya pengikut Samin di Blora hal yang wajar, karena memang didaerah inilah ajaran Samin pertam,a kali lahir dan berkembang.
Kaum Samin biasanya bertempat tinggal antara hutan dengan lading pertanian, dan kebetulan daerah itu kebanyakan adalah hutan jati Oleh karenanya hutan merupakan salah satu elemen utama pembentuk watak dan karakter kaum Samin. Mereka adalahn orang-orang introvert yang banyak merenung, namun tabah menghadapi tempaan kehidupan. Karena mereka terbiasa hidup sendiri secara berdikari, setiap usaha yng hendak mencampuri urusan yang bersifat pribadi akan mendapat tentangan keras.
Kekuasaan kolonial selamanya dianggap terlampau bercampur tangan dalam kehidupan pribadi mereka. Maka tidak heran kalau daerah ini tidak pernah sepi dari gerakan perlawanan. Jika yang bebas dan berdikari tidak mau tunduk kepada kekuasaan yang lalim dan sewenang-wenang. Dan karena kekuasaan itu selalu lebih kuat, maka jiwa itupun menarik diri dan membungkus diri, untuk sewaktu-waktu diletuskan kembali dalam berbagai bentuk yang mungkin.
Sikap kaum samin itu dengan demikian bukan sekedar sikap ekonomi. Ia adalah sikap hidup yang total, sikap hidup suatu kebudayaan. Pemberontakanya terhadap colonial Belanda adalah sebabagian saja dari sikap umumnya terhadap unsure luar yang hendak menggganggu sikap hidup mereka.
Bahwa orang Samin sendiri tidak mengagung-agungkan pemimpinya. Yang mereka agungkan adalah sikap hidup kebudayaan mereka, yang dapat disimpulkan merupakan akhlak yang terpuji. Ini sejajar sekali dengan ajaran mereka, bahwa semua manusia itu sama, sama kelahiranya, samam kebutuhanya dan tujuanya. Karena itu tidak adalah sebab yang mengharuskan orang membeda-bedakan manusia.
Semua manusia adalah saudara (sedulur) dan harus tolong-menolong. Karena itu pula tidak dikenal tingkat-tingkat bahasa jowo seperti ngoko, madya, kromo. Semua pembicaraan dilakukan dalam ngoko. Sebuah sikap egaliter dari sebua masyarakat yang dikatakan banyak orang primitive dan tidak beradab.
Orang samin mempunyai kepercayaan “ Tuhan itu ada dalam diri sendiri” dan penyelamat dari siksaan adalah diri mereka sendiri. Selain itu mereka juga tidak percaya adanya surga dan neraka. Konsep ini hamper sama dengan kejawen atau kebatinan jawa yang menjadi cita ideal dalam pandangan hidup para penganutnya adalah pertemuan atau persatuan antara hamba dan tuhanya.
Perkawinan pada masyarakat Samin dianggap sacral dan suci. Dan kaum wanita dijunjung tinggi. Suatu sifat dari ajaran samin adalah ajaran tentang etika yang dilaksanakan ketat sekali. M,ereka cenderung menganut sifat puritan dimana pengikutnya dilarang keras mencuri, berbohong, berjinah.
Sebaliknya mereka dianjurkan untuk bekerja dengan rajin, untuk sabar, jujur dan murah hati. Dan ternyata mereka hidup rukun dan damai. Aturan-aturan moral yang mendasari kehidupan masyarakat samin juga merupakan suatu mekanisme dalam membina solidaritas kelompok.
Kalau boleh di rimgkas ada beberapa aspek dari sikap orang samin yang patut dicatat , yaitu tanpa kekerasan, rajin, jujur dan berhasil sebagai petani, serta menghargai sesamanya sederajat, termasuk kaum wanita,

2.3.. Peranan Hutan
Baik di waktu meletusnya pemberontakann samin higga waktu ini, pengikut Samin tinggal di pinggiran jati yang berbatasan dengan daerah pertanian. Mereka hidup di dua alam itu, itulah alam yang mereka kenal dan dua-duanya vital bagi mereka.
Pengertian orang Samin mengenai Hutan dapat dirumuskan secara singkat : “ Hutan adalalah warisan nenek moyang, dan anak cucu berhak atas pemakainanya.” Atau dengan kata mereka sendiri: lemah podo duwe, banyu podo duwe, kayu podo duwe (Tanah, air dan kayu milik orang banyak).
Semangat itu merupakan cerminan karakter sosial kaum Samin yang menyandarkan pada kebersamaan dan komunalisme. Sebuah konsep yang sangat radikal dan progresif dalam masalah Agraria dan Lingkungan pada era itu bahkan sekarang pun.
Selain itu pemikiran ini menggambarkan pertautan yang erat antara manusia dan alam, yang mana keduanya harus hidup selaras dan manusia tidak seenaknya mengeksploitasi alam. Sebuah sikap dan perilaku yang menunjukan penghargan yang tinggi terhadap alam.
Titik balik penting dalam persolan hutan adalah ketika pemerintah kolonial memberlakukan Undang-undang Agraria ( Agrarische Wet ) tahun 1870, di mana pemerintah kolonial melakukan perampasan tanah yang di istilahkan dengan Woeste gronden (tanah-tanah tak di olah), dan memberikan jalan bagi masuknya modal perkebunan eropa dengan antara lain menyediakan tanah Erfpacht (sewa).
Undang-undang itu disusul dengan peraturan lain mengenai eksploitasi hutan untuk Jawa dan madura 1874 dan ordonansi-ordonansi lain yang bertubi-tubi dan makin lama makin mengetatkan eksploitasi dan sebaliknya makin menghimpit kehidupan petani di tepiu hutan.
Berkembangnya Industri jati di sekitar Blora sebaliknya merupakan maut bagi penduduk Blora yang hidup di tepim hutan. Mereka terkena rodi hutan yang terkenal dengan nama “blandongan”. Desa-desa menjadi kamp konsentrasi kerja paksa. Untuk melaksanakan tuntutan rodi dalam jumlah bulan tertentu, mereka terpaksa meninggalkan rumah, sawah dan lading.
Mereka harus melakukan kerja rodi yang diterapkan oleh gubernermen. Harus kerja paksa untuyk tuan tanah partikelir dimana mereka tinggal. Harus kerja rodi untuk pegawai pamongpraja pegawai colonial bumiputera. Dan mereka harus m,engerjakan tanah sendiri. Dan akhirnya kebanyakan tanah mereka malah jarang terurus karena tidak lagi tersisa waktu.

2.4. Perlawanan tanpa kekerasan
Ciri utama pemberontakan Samin adalah sifat perlawanan tanpa kekerasan. Sebagai sebuah perlawanan individual cara ini mungkin umum, tapi tidak demikian kalau dilakukan secara kemasyarakatan apalagi secara politik. Dunia belum pernah menyaksikan praktek ini, dan inilah jasa Samin Surontiko kepada (kalau hendak di nyatakan demikian) dunia mempraktekkan sebuah bentuk protes tanpa mengedepankan kekerasan.
Kemungkinan cara ini ini tidak semula di ajarkan oleh Samin sendiri. Pada awalnya sebagai sebuah gerakan semula tidak mendapat respon dari penguasa, tapi begitu ajaran itu diterapkan, reaksi penguasa seketika jelas. Represifitas dilakuakbn pemerintah colonial untuk menekan dan menghancurkan gerakan ini. Dan yang mempraktekan pertama kali Samin sendiri.
Samin mengerti benar bahwa cara ini harus dilakuakan dengan keteguhan hati, itu sebabnya membutuhkan persiapan den kematangan dari pelakunya. Dan cara ini menuntut pengorbanan yang serba berat, disita barang miliknya, dipenjara, dibuang, paling tidak dikucilkan oleh masyarakat. Ajaran ini pada pokoknya kemudian dilaksankan oleh kaum Samin dan itulah yang menjadi trade maerk saminisme, walaupun kadang-kadang memang kekerasan masih terjadi.
Mengherankan bahwa bertahun-tahun sesudah itu (diawali pada tahun 1908) Mahatma Gandhi, pemimpin rakyat India yang waktu itu masih masih berada di Afrika Selatan, mulai mempraktekan cara itu dalam perjuanganya melawan kolonialisme. Memang dalam otobiografinya ia menyatakan bahwa sesungguhnya cara itu sudah lahir sebelum ia mengetahui namanya dan banyak pengalamn yang harus dilalui dahulu sebelum akhirnya melakukan dengan sadar.
Orang Samin bukanlah orang berpendidikan, tapi cara perlawanan yang mereka tempuh cukup unik. Misalnya, pada waktu mereka mendapat perintah memindahkan onggokan batu, mereka pindahkan sebuah saja. Pada waktu mereka disuruh mengangkat kayu, mereka angkat kayu itu, tanpa membawanya kemanapun. Ketika diminta cap tanganya untuk surat tertentu, mereka menjawab sudah ada yang mesti mereka cap sendiri, yaitu istrinya,
Cara perlawanaan ini membutuhkan keberanian Luar buiasa bahkan militansi. Dan militansi itu sudah di buktikan asepanjang sejarah perlawanan Samin yang panjang itu.
Ada satu aspek lain dari gerakan samin yang cukup penting juga. Sesungguhnya gerakan ini tidak homogen. Setelah Surontiko di buang, para pemimpin lainya yang meneruskan ajaranya mempunyai pandangan-pandanan yang berbeda. Misalnya, orang Samin di grobogan ada yang masih menganut Islam dan tidak membangkang pada pemerintah.
Kemudian kelompok yang berdiam di wonokerto melakuakn kerja rodi, tetapi masih bersedia membayar pajak, sedangkat pengikut masih mau berhubunagn dengan pemerintah walaupun enggan membayar pajak dan melakukan kerja rodi.Hanya pak Engkrak yang dapat dianggap paling keras sikapnya, karena dia Dan pengikutnya sama sekali menolak hubunagan dengan pemerintah dan tidak mau menuruti kewajiban-kewajiban pemerintah.
3.Kesimpulan
Kaum samin. Ya, nama sebuah kelompok yang selama ini termarginalkan dan tersisihkan lembaran-lembaran sejarah atau kebudayaan. Citra yang muncul mengenai keberadaan mereka pun lebih banyak merendahkan daripada mengakui bahwa Samin mempunyai nilai budaya local yang luhur dan sang humanis. Bahwa kaum ini di gambarkan sangat tertutup ataupun ketinggalan jaman. Namun di balik itu semua, kaum ini dalam proses perrjalan sejarahnya (walaupun jarang di tulis dalam buku sejarah ataupun kebudayaan) menorehkan sebuah lembaran sejarah yang besar. Kaum ini melakukan sebuah perlawanan atau dalam bahasanya pemerintah Kolonial adalah “Pemberontakan”.
Perlawanan yang di lakuakan kaum ini boleh dikatakan tergolong sangat unik dan menarik. Sebagai sebuah bentuk protes, gerakan berbeda sekali dengan pola umum yang ada. Kalau pada umumnya sebuah gerakan perlawanan itu mengedepankan kekerasan, kaum ini tidak. Mereka menyandarkan diri pada perlawanan tanpa kekerasan.
Perlawanan ini tidak bisa dipandang hanya sebuah konflik berdasar persoalan ekonomi saja namun juga perjuangan kebuadayaan yang mana menuntut kesadaran tinggi dari Individu. Bagi mereka telah terjadi pelemahan atau penghancuran kultur yang dilakuakan oleh pemerintah colonial Sehingga resistensinya sangat keras, dan berlangsung sangat lama.
Persoalan kebuadayaan ini dapat dilihat cara pandangnya, yang cenderung tidak mengakui pemerintah. Bagi mereka tanah, Air atau Hutan yang ada di sekitarnya merupakan milik komunal, dan mereka bisa mengelola tanpa campur tangan pihak colonial. Sebuah pemikiran yang menampar pemerintah colonial karena kaum ini tidak mau mengakuinya, yang terbukti dengan keenggenan mereka untuk tidak membayar pajak.
Gerakan ini merupakan salah satu gerakan sosial tradisional pasif yang dilakukan oleh petani-petani pedesaan, yang bertahan cukup lama. Salah satu faktornya adalah gerakan ini mempunya basis cultural yang berakar dengan kuat. Sehingga walaupun di represif perlawanan mereka tidak padaklah padam total namun hanya menunggu saat yang tepat untuk meledak kembali.

Daftar Pustaka

1. Lembar Kerja Komunitas Super Samin, Blora.
2. Nugroho Notosusanto dkk, 1984.”Sejarah Nasional Indonesia IV”. Jakarta : Balai Pustaka, 11 Agustus 1984.
3. Prisma, no. 8. Agustus 1987.