Tradisi Lisan

 

Dalam pembelajaran ilmu sejarah kita sering kali berhadapan dengan data-data yang disebut dengan sumber-sumber sejarah. Dalam penggunaan sumber sejarah kita sering kali menemukan apa yang disebut Tradisi lisan, apa sebenarnya yang diamaksud tentang tradisi lisan itu sendiri? Definisi umum tentang tradisi lisan adalah suatu cerita atau penuturan yang diucapkan oleh seorang penutur. Kita ambil contoh Pantun, seperti apa yang ditulis oleh Ajip Rosidi di Majalah Star Weekly, 12 April 1958. Ia memaparkan tentang pantun ynag merupakan suatu kesenian Sunda yang hampir hilang, dalam kesenian ini kita dapati bahwa ada tukang pantun atau penutur yang menuturkan cerita dalam bentuk pantun. Cerita pantun itu sendiri berasal dari rakyat, seperti Lutung Kasarung, Ciung Wanara dan lain-lain. Jalan cerita pantun itu sendiri akan berbeda antara satu daerah dengan daerah lainnya. Dalam prateknya pantun ini memiliki tata cara yang tersendiri, baik waktu, tempat dan sang penutur sendiri.

Dari uraian diatas kita dapat mengatakan bahwa pantun termasuk dalam tradisi lisan (Oral Tradition), permasalahannya kini adalah sampai dimana keilmiahan suatu tradisi lisan. Bahkan di Amerika cerita rakyat (Foklor) belum diakui sebagai bidang pengkajian yang benar-benar ilmiah, ini sebenarnya terjadi karena dalam penyampaiannya si penutur tidak mempunyai tuntutan atau tidak dituntut untuk menceritakan persis seperti apa yang ia lihat dan dengar, sering kali ia menambahkan dan mengurangi kata atau juga bisa cerita tanpa ia sengaja atau pun tidak disengaja. Lantas bagaimana dengan tradisi lisan yang coba ditulis (tertulis) seperti Hikayat, babat dan sebagainya. Disini sangat memungkinkan sekali adanya suatu penambahan atau pengurangan dan bahkan pengubahan kata yang sanggup untuk mengubah arah cerita. Karena inilah tradisi lisan kurang bisa dipertanggung jawabkan bila digunakan sebagai suatu sumber sejarah, namun tradisi lisan mampu menjadi alat analitis suatu penelitian. Pada zaman kolonial di Indonesia sudah terjadi suatu proses pemindahan ciptaan lisan ke tradisi tulisan. Pada tradisi lisan sendiri terdapat suatu pembedaan bentuk, yaitu bentuk istemewa dan bentuk bersahaja, perbedaan antara keduanya terletak pada penyampaiannya. Jika pada bentuk istemewa menggunakan lagu, nyanyian atau irama khusus, tetapi pada bentuk bersahaja menggunakan bahasa percakapan sehari-hari. Kedua bentuk tradisi lisan ini dalam penyampaiannya akan banyak dipengaruhi oleh beberapa hal yang tentu saja bisa mengubah arah cerita, salah satunya adalah situasi ketika sang penutur menceritakan kembali suatu cerita. Kemudian juga ditemukan oleh J.C. Bottoms bahwa proses pengolahan kembali tersebut langsung menghapuskan cerita aslinya, namun begitu tidak menutup kemungkinan untuk mengolah kembali tradisi lisan yang hampir mirip dengan aslinya tetapi tetap saja menimbulkan suatu kekecewaan bagi pembaca akibat adanya suatu pengubahan cerita.

Dalam proses penulisan tradisi lisan mengalami suatu masalah, yaitu menyangkut kaidah dokumentasi.  Sebenarnya masalah tersebut dapat diatasi dengan cara membuat membuat dokumentasi ilmiah tersebut menjadi transkripsi yang tidak  dibatasi dan disertai pula tafsiran serta diterbitkan bersama-sama dengan rekamam audio. Namun karya seperti itu tampaknya sulit untuk sampai pada masyarakat luas. Adanya penandaan dalam penulisan tradisi lisan juga dapat menimbulkan suatu kebingungan bagi para pembaca sendiri. Perlu disadari bahwa pengertian tentang tradisi lisan hanya tercapai jika konteks interaksinya bersentuhan dengan tradisi tulisan, dan juga harus kita sadari bahwa mau tidak mau jika kita mengkaji tradisi lisan maka kita akan berhadapan dengan aksara. Ini dikarenakan masyarakat yang ada wacananya telah banyak dipengaruhi oleh tulisan, dan tulisan inilah yang mampu mempengaruhi proses penceritaan kembali oleh masyarakat. Pada masa seperti ini sukar sekali untuk menemukan kelisanan murni yang tidak terpengaruh oleh tradisi tulisan. Di bidang ilmu sejarah kelisanan mampu menjadi suatu alat yang berguna dalam penelitian dan penulisan bila kita mampu mengolahnya.